Peranan Akuntan

Berbeda dengan akuntansi keuangan, akuntansi manajerial atau perpajakan yang lebih berfokus pada perannya sebagai penyedia informasi untuk membantu dalam pengambilan keputusan, SIA lebih berfokus pada cara mengumpulkan data tentang aktivitas, transaksi keuangan serta memastikan keandalan, ketersediaan dan keakuratan informasi akuntansi dalam perusahaan.

Bahkan AICPA (American Institute for Certified Public Accountant) menyediakan spesialisasi yang dapat diambil oleh para CPA (Certified Public Accountant) yang berfokus pada bidang sistem informasi dan teknologi yaitu CITP (Certified Information Technology Professional).

Lebih lanjut IFAC (International Federation of Accountant) mengidentifikasi empat peran akuntan sebagai pengguna teknologi informasi yaitu akuntan sebagai pengguna, akuntan sebagai manajer, akuntan sebagai konsultan, dan akuntan sebagai evaluator.

Berkaitan dengan peran akuntan sebagai pengguna IFAC menyatakan bahwa akuntan perlu memahami tentang arsitektur sistem informasi, perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), pengolah kata (word processor), lembar kerja (worksheet), basis data (database) dan ilmu akuntansi tentunya, karena SIA berperan besar mulai dari pencatatan transaksi rutin perusahaan hingga ke pembuatan laporan eksternal.

Dalam perannya sebagai manajer, akuntan bertanggungjawab dalam mengatur sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk mencapai tujuannya. Seorang akuntan harus mengetahui proses bisnis perusahaan serta tujuan perusahaan, dan peran SIA dalam mendukung proses bisnis untuk mencapai tujuan perusahaan. Peran akuntan sebagai manajer merupakan hal yang sangat penting karena akuntan memiliki kemampuan dalam memahami isi laporan yang dihasilkan oleh SIA, terutama pada bagian intrepretasi laporan yang akan disampaikan kepada berbagai jenis pengguna laporan.

Akuntan yang sudah berpengalaman biasanya dapat memberikan berbagai jasa konsultasi, salah satunya adalah sistem informasi. Pengalaman yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun akan memberi nilai tambah berupa pengetahuan pada bidang perancangan, pengumpulan data, instalasi, hingga modifikasi sistem akuntansi. IFAC menekankan bahwa para perancang sistem harus memahami tugas-tugas, praktik-praktik bisnis, sistem alternatif yang ada dan mampu mengintegrasikan pengendalian internal, akuntan sebagai konsultan biasanya memiliki kemampuan tersebut.

Akuntan menyediakan berbagai jasa sebagai evaluator terutama yang berfokus pada SIA, baik sebagai auditor internal yang bertugas mengevaluasi berbagai unit dalam perusahaan terutama dalam pencapaian tujuan dengan cara yang efektif dan efisien, atau mengembangkan pengendalian internal dengan tujuan kepatuhan terhadap hukum yang berlaku. Selain itu akuntan juga dapat berperan sebagai auditor eksternal yang bertugas memberikan opini sebagai tanda kredibilitas perusahaan dalam menyajikan laporan keuangan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku baik secara praktik yang berlaku umum maupun kepatuhan dalam hukum dan perundangan yang berlaku, salah satu tugas akuntan dalam proses pemberian opini adalah mengevaluasi keandalan dari SIA perusahaan.

Sistem Penetapan Harga Pokok

Proses dan Operasi

Akuntansi biaya mengenal dua metode penetapan harga pokok produk, yaitu metode harga pokok pesanan (job-order costing) dan sistem harga pokok proses (process costing). Perbedaan kedua metode tersebut adalah:

Harga pokok pesanan (job-order costing). Pada metode ini, obyek biaya adalah satu unit atau beberapa unit dari produk yang berbeda-beda atau terpisah yang disebut dengan pesanan (job). Setiap pesanan menggunakan atau mengkonsumsi jumlah sumber daya yang berbeda, produk atau jasa bisa berupa satu unit, seperti bangunan perumahan oleh suatu developer atau agen perumahan, usaha percetakan undangan, atau permintaan pembuatan materi iklan yang diterima agen iklan. Harga pokok pesanan mengakumulasi biaya (cost) secara terpisah untuk tiap-tiap produk dan jasa karena masing-masing produk mengkonsumsi sumber daya yang berbeda. Singkatnya penggolongan biaya pada harga pokok pesanan dibebankan berdasarkan unit yang selesai, bukan pada proses yang dilewati dalam menghasilkan produk tersebut.

Harga pokok proses (process-costing). Pada metode ini, obyek biaya (cost) adalah unit produk atau jasa yang mempunyai sifat massal dan identik. Sebagai contoh seperti perbankan yang memberikan proses jasa yang sama kepada tiap-tiap nasabahnya ketika menabung. Perusahaan telepon genggam memberikan produk yang identik kepada setiap pelanggannya, perusahaan air minum kemasan memberikan produk dan kemasan yang sama untuk pelanggannya. Untuk setiap periode, metode harga pokok proses membagi total biaya (cost) dari pembuatan produk dengan jumlah unit yang diproduksi. Biaya per-unit merupakan biaya unit rata-rata yang dikandung dalam unit-unit yang diproduksi pada periode tersebut. Singkatnya pembebanan biaya pada metode ini berdasarkan tiap tahap atau proses yang dilewati oleh satu unit produk jadi, bukan berdasarkan pada satu unit produk jadi.

Untuk pembahasan kali ini kita akan lebih memfokuskan kepada harga pokok proses (process-costing). Untuk aliran biaya pada harga pokok proses tidak jauh berbeda dengan harga pokok pesanan, pada harga pokok pesanan aliran biaya akan diakumulasikan berdasarkan pesanan pekerjaan baik ituproduk barang ataupun jasa. Sementara untuk harga pokok proses mengakumulasi biaya berdasarkan masing-masing proses yang dilalui oleh suatu produk ataupun jasa. Ketika suatu unit selesai untuk satu proses maka akumulasi biaya produksi akan ditransfer ke proses produksi berikutnya yang dialami unit tersebut, begitu seterusnya hingga proses produksi terakhir suatu unit produk atau jasa yang nantinya akan akumulasi biaya tersebut menjadi nilai barang jadi.

Hansen, et al (2009) merumuskan bahwa sistem harga pokok proses memiliki tujuh ciri khusus:

Unit yang homogen atau sama melewati rangkaian proses produksi yang sama atau serupa.
Tiap unit pada tiap proses produksi menerima jumlah biaya produksi yang sama atau serupa.
Biaya produksi diakumulasikan berdasarkan proses untuk jangka waktu tertentu.
Terdapat akun barang dalam proses (BDP) untuk tiap proses.
Aliran biaya produksi dan jurnal yang berhubungan, pada umumnya sama seperti harga pokok pesanan.
Laporan produksi per-departemen merupakan dokumen kunci untuk melacak kembali aktivitas dan biaya produksi
Biaya perunit dihitung dengan membagi biaya per-departemen pada satu periode dengan produk yang dihasilkan pada periode tersebut.

Harga Pokok Proses tanpa Persediaan Barang Dalam Proses (BDP) di Awal dan Akhir Periode.

Dengan tidak adanya persediaan BDP di awal dan akhir periode, perhitungan untuk harga pokok proses menjadi jauh lebih mudah, yaitu dengan menjumlahkan semua biaya produksi yang dikeluarkan pada periode tersebut kemudian membaginya dengan unit produksi yang dihasilkan.

Misalnya untuk proses pembersihan gigi yang ada di klinik-klinik perawatan gigi dan gusi dalam satu bulan adalah sebagai berikut:

Bahan baku langsung disini adalah zat kimia yang digunakan untuk membersihkan gigi, biaya tenaga kerja langsung adalah gaji asisten dokter disini, dan biaya overhead adalah semua biaya yang terlibat dalam proses produksi selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, contohnya seperti listrik di klinik, penggunaan air untuk berkumur di klinik, dan lainnya. Mengacu pada data tersebut, maka biaya yang ditanggung oleh tiap pasien atau biaya perunit dari jasa pembersihan gigi yang diberikan adalah:

Secara teoritis biaya per unit satu periode harusnya hanya dibebankan pada unit yang diproduksi di periode tersebut, hal ini sejalan dengan konsep akuntansi secara umum yang menandingkan antara biaya yang terjadi pada satu periode dengan pendapatan yang dapat dikumpulkan atau digeneralisir pada periode tersebut.

Harga Pokok Proses dengan Persediaan Barang Dalam Proses (BDP) di Akhir Periode

Biaya perunit diperlukan untuk menghitung harga pokok BDP yang di transfer ke unit yang lain, dan kemudian berakhir pada nilai persediaan BDP. Persediaan BDP akan mempengaruhi perhitungan biaya per unit dengan mempengaruhi pengukuran produksi pada satu periode. Namun kendala yang dihadapi biasanya adalah nilai BDP tersebut, kita misalkan di perusahaan yang memproduksi gula, ketika produk selesai maka nilai dari produk tersebut akan lebih mudah dinilai, dibandingkan apabila terdapat produk yang belum selesai atau BDP. Yang menjadi pertanyaan adalah berapa nilai BDP tersebut? Jika dibandingkan dengan nilai pasar, maka belum tentu ada BDP serupa di pasar, sementara jika dinilai sesuai dengan produk jadi, BDP belum sepenuhnya menjadi produk jadi. Secara definisi, BDP bukanlah merupakan produk jadi, BDP yang ada pada akhir periode tidak sama (ekuivalen) dengan satu produk jadi, dan biaya-biaya yang terkandung dalam BDP sudah pasti berbeda dengan biaya yang terkandung dalam produk jadi.

Pengukuran Unit Ekuivalen

Untuk mengilustrasikan permasalahan nilai BDP dan nilai persediaan produk jadi, bisa dilihat dengan contoh berikut:

Kita asumsikan jika sebuah pabrik gula mempunyai BDP awal nol, ketika akhir periode beberapa unit telah berwujud barang jadi, namun beberapa masih dalam tahap produksi atau setengah jadi. Maka hal ini akan membingungkan, Ketika dicatat unit keluaran sebesar 30.000 unit maka kita mengabaikan 5.000 unit setengah jadi (BDP), sedangkan jika kita mengatakan unit keluaran sebesar 35.000 unit maka kita mengabaikan informasi bahwa 5.000 dari unit keluaran masih berbentuk setengah jadi atau barang dalam proses (BDP). Karena itu unit keluaran harus diukur secara tepat sehingga dapat menunjukkan nilai yang sesungguhnya dari produk jadi ataupun BDP.

Agar BDP bisa disamakan dengan produk jadi biasanya dilakukan pengukuran dengan unit ekuivalen. Unit ekuivalen adalah unit barang jadi yang telah diproduksi dibagi dengan proses produksi yang telah dilewati dalam satu periode dengan pertimbangan tertentu. Menentukan output atau keluaran dari unit ekuivalen merupakan hal mudah, karena sebuah unit tidak akan ditransfer ke departemen selanjutnya kecuali unit tersebut telah selesai prosesnya pada departemen tersebut. Jika melanjutkan contoh sebelumnya, BDP sejumlah 5.000 unit kita asumsikan telah menyerap sebanyak 25% dari jumlah keseluruhan biaya produk jadi, maka dengan mengkalikan 5.000 unit BDP dengan 25% didapatlah unit ekuivalen sebesar 1.250 unit (5.000 unit x 25%). Maka unit ekuivalen untuk periode tersebut adalah 30.000 unit barang jadi ditambah dengan 1.250 unit ekuivalen BDP yaitu 31.250 unit keluaran.

Laporan Harga Pokok Produksi

Merujuk kembali pada permasalahan sebelumnya maka untuk laporan harga pokok produksi setidaknya memiliki dua bagian yaitu bagian perhitungan dengan satuan unit, dan bagian perhitungan dengan satuan moneter. Perlu dipahami bahwa laporan ini sifatnya lebih pada  pertanggungjawaban atas biaya yang sebelumnya dikeluarkan, biaya yang telah dikeluarkan kembali ditelusur secara detil sehingga jika terjadi perubahan kebijakan manajemen, akan lebih mudah menyesuaikan biaya-biaya yang terlibat jika biaya-biaya tersebut telah dapat dikenali secara mendetil. Hansen, et al (2009) mengungkapkan untuk mempersiapkan laporan harga pokok produksi setidaknya ada lima langkah yang harus diperhatikan:

Analisis aliran fisik unit produk. Tahap ini membagi BDP awal dan akhir suatu unit, prosentase penyelesaiannya, dan jumlah unit yang ditransfer keluar.
Perhitungan unit ekuivalen. Menyediakan perhitungan tentang unit ekuivalen.
Perhitungan biaya per unit. Menyediakan perhitungan per unit dalam satuan moneter.
Penilaian persediaan. Informasi dari biaya unit selesai dan unit ekuivalen yang kemudian diolah untuk menunjukkan berapa biaya unit yang ditransfer dan BDP yang tersisa.
Rekonsiliasi Biaya. Tahap ini merupakan pengecekan ulang dari awal produk yang selesai, BDP, unit ekuivalen hingga unit yang ditransfer keluar.

Pada contoh sebelumnya kita menyeragamkan 25% untuk semua elemen yang terlibat dalam proses produksi yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Namun ada kalanya dalam praktik bisa jadi suatu unit telah menyerap semua bahan baku namun hanya menyerap 25% tenaga kerja, seperti misalnya untuk tes lab darah, bahan-bahan kimia biasanya diberikan 100% diawal proses, kemudian biaya tenaga kerja ditambahkan berdasar alur proses tes lab darah tersebut. Maka perhitungan akan dicontohkan sebagai berikut:

Dan tentu saja dari perhitungan yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda dengan sebelumnya, meskipun mungkin tidak terlalu besar, namun tetap jika terjadi perbedaan antara elemen-elemen penyusun biaya haruslah dipisah antara satu dengan yang lain agar biaya dapat ditelusur secara detil.

Dari contoh sebelumnya menunjukkan bahwa hasil akhir BDP berpengaruh terhadap pengukuran dan penilaian dari unit keluaran. Namun pada praktiknya terkadang terdapat juga persediaan awal BDP dan hal tersebut tentu mempengaruhi pengukuran dan penilaian unit keluaran. Untuk perhitungan aliran persediaan BDP awal tentunya akan memberikan dampak kompleksitas dalam perhitungan aliran biaya, dan hasil perhitungan bisa jadi berbeda, dalam hal ini terdapat dua metode yang kerap digunakan yaitu metode perhitungan harga pokok produksi berdasar FIFO (FIFO costing method) dan metode perhitungan harga pokok produksi berdasar rata-rata tertimbang (weighted-average costing method). Kedua metode tersebut mengikuti lima langkah yang telah sebelumnya diungkapkan, kedua metode tersebut biasanya memberikan hasil seragam hanya pada langkah pertama, sisanya bisa jadi berbeda antara FIFO dengan rata-rata tertimbang. Untuk metode perhitungan harga pokok berdasar FIFO maupun rata-rata tertimbang akan dibahas pada artikel lainnya.

Kesimpulan:

Akuntansi biaya mengenal dua pendekatan untuk menentukan harga pokok produk, yaitu harga pokok pesanan dan harga pokok proses. Harga pokok proses mengakumulasikan biaya berdasarkan unit produksinya sementara harga pokok proses mengamulasikan biaya berdasarkan proses per-departemennya.

Karena akumulasi biaya pada harga pokok proses berdasar proses yang dilewati maka terdapat unit yang dinamakan barang dalam proses (BDP) yaitu bahan baku yang sedang diolah atau sedang melalui proses per-departemen namun masih belum menjadi barang jadi. BDP ini nantinya mempengaruhi perhitungan harga pokok proses, pada akuntansi biaya terdapat dua perhitungan harga pokok proses. Yang pertama perhitungan harga pokok proses tanpa BDP di awal dan akhir periode dan yang kedua adalah perhitungan harga pokok proses dengan persediaan BDP di akhir periode. Untuk perhitungan harga pokok proses dengan persediaan BDP di akhir periode diperlukan perhitungan unit ekuivalen, yaitu perhitungan untuk menyamakan besaran nilai BDP dengan nilai barang jadi untuk nantinya dipergunakan untuk perhitungan harga pokok produksi.

Menurut Hansen, perhitungan harga pokok produksi setidaknya mencakup lima langkah. Yang pertama adalah perhitungan analisis aliran fisik unit produk, langkah kedua perhitungan unit ekuivalen, langkah ketiga perhitungan biaya per unit, langkah keempat yaitu penilaian persediaan atau perhitungan biaya yang dikeluarkan secara keseluruhan untuk diolah menjadi biaya per unit, yang kelima adalah rekonsiliasi biaya, yaitu distribusi biaya yang telah dikeluarkan untuk produk selesai, BDP, unit ekuivalen hingga unit yang ditransfer keluar.

Untuk perhitungan harga pokok produksi terdapat dua metode yaitu perhitungan harga pokok produksi berdasarkan FIFO dan perhitungan harga pokok produksi berdasarkan rata-rata tertimbang, yang akan dibahas pada artikel lain.

9 PENYAKIT MENTAL MANUSIA

 

Penyakit Mental Manusia

Penyakit Mental Manusia

Penyakit Mental Manusia

Manusia dengan segala polemik hidupnya tentulah dituntut untuk senantiasa berupaya sambil berdoa dengan tidak mengenyampingkan tanggung jawab. Dengan dilandasi iman yang kuat dan akal (pengetahuan yang tinggi) manusia dapat menjadi sangat mulia dan tinggi derajatnya dibanding dengan makhluk lain, namun manusia juga dapat menjadi sangat buruk dibanding makhluk lain dengan adanya nafsu yang tidak diikat kuat oleh iman,  kemalasan yang menyebabkan kebodohan dan manusia yang tidak menggunakan akal sehatnya (pengetahuan) yang disebut Penyakit mental manusia.

Ada pepatah “Baik menjadi orang penting, namun jauh lebih penting menjadi orang baik”, tentulah penyakit mental manusia akan mengakar di dalam dirinya jika ketika seseorang menjadi orang penting namun dalam hati dan akal pikirannya terdapat kebusukan,keburukan dan kejahatan dalam proses mengejar cita-cita atau impian-impiannya dan dalam penerapannya.

Dibawah ini terdapat 9 PENYAKIT MENTAL MANUSIA yang kerap menetap pada diri manusia.

 

1. Jalan pintas

Pemain tinju indonesia harus latihan sparing tiap hari, lari keliling lapangan sepak bola dan latihan lompat tali sebanyak 1000 kali, tentu hal ini adalah proses untuk menjadi petinju terbaik. Hal itu tidak mungkin terjadi jika berdiam diri dirumah hanya makan dan tidur lalu tiba-tiba menjadi juara tinju dunia. Suatu kesuksesan tidak pernah ditempuh dengan jalan pintas.

Penyakit mental manusia ini sangat bertentangan juga dengan ajaran agama yang mana kita dituntut untuk senantiasa bekerja keras, berusaha untuk mencapai keinginan atau cita-cita dengan jalan yang baik. Sesuatu yang cepat tanpa melalui suatu proses tentulah hasilnya tidak maksimal, memicu kemalasan dan biasanya tidak bertahan lama.

2. Menyalahkan atau melampiaskan pada diri sendiri

Penyakit mental manusia yang kedua adalah menyalahkan diri sendiri. Mungkin hampir semua manusia pernah menyalahkan dirinya sendiri karena suatu kesalahan yang pernah dilakukan namun tentulah kita tidak perlu menyalahkan diri kita sendiri karena kesalahan tersebut. Hal yang terbaik dilakukan adalah memperbaiki kesalahan itu dan tidak mengulanginya lagi.

Menyalahkan diri sendiri akan menambah penyakit mental manusia, pastinya kita tidak ingin hal ini terjadi. Memang manusia tidak luput dari kesalahan tapi kita senantiasa dituntut untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu bukan dengan menyalahkan diri sendiri kenapa kesalahan itu sampai terjadi. Contohnya jika kita tidak lulus dalam ujian nasional di sekolah atau tidak mencapai target dalam suatu pekerjaan di perusahaan, lalu menyalahkan diri sendiri sambil membentur-benturkan kepala ditembok atau dengan melakukan hal-hal yang dilarang agama, ini adalah sikap yang tidak bertanggung jawab, lama-kelamaan akan menimbulkan penyakit mental manusia.

Jangan membanding-bandingkan kesukseskan orang lain dengan kegagalan kita, sehingga kesuksesan orang lain dimaklumkan atau dianggap wajar karena mereka punya ini atau itu yang tidak kita miliki. Tidak percaya diri juga merupakan bagian dari penyakit mental manusia namun kita juga jangan terlalu percaya diri karena akan membuat orang lain berpikir bahwa kita sombong atau angkuh.

3. Selalu menyalahkan orang lain

Sikap yang selalu menyalahkan orang lain adalah penyakit mental manusia yang harus segera diubah. Dengan kita selalu menyalahkan orang lain, kita tidak akan pernah belajar apa yang namanya tanggung jawab. Dimasyarakat pedalaman suatu desa atau kampung, jika seseorang tubuhnya terkena suatu penyakit, yang biasa terpikirkan oleh beberapa orang masyarakat itu adalah “siapa” yang menyebabkan orang ini terkena penyakit, bukan berpikir bahwa “apa” penyebabnya.

Dari narasi di atas dapat kita simpulkan bahwa masyarakat disitu masih memiliki penyakit mental manusia yaitu dengan cara menyalahkan orang lain yang belum tentu dialah penyebabnya. Para peneliti dibidang kesehatan jika ada suatu penyakit yang ditemukan, mereka selalu mencari “apa penyebabnya” bukan “siapa penyebabnya”. Penyakit mental manusia yang sedang kita bahas ini adalah suatu sikap yang masih primitif dan harus ditinggalkan. Bijaksanalah dalam bersikap untuk mencari sumber penyebabnya dan jangan menyalahkan orang lain kendati memang orang lainlah penyebabnya.

4. Tidak mempunyai impian atau cita-cita

Ada pepatah dari yunani “Dunia yang paling tinggi adalah dunia hayal” tentu jika dihubungkan dengan penyakit mental manusia, pepatah tersebut sangat membantu memperbaiki penyakit mental manusia, kenapa demikian? karena dalam menjalankan kehidupan ini, kira harus mempunyai mimpi atau cita-cita agar dalam setiap sikap dan keputusan kita selalu termotivasi untuk mengejar mimpi atau cita-cita itu.

Diibaratkan seekor hewan rusa yang sedang diburu oleh seekor pemangsa yang kelaparan, tentu si rusa akan berusaha sekuat tenaga lari menghindari dari pemangsa kelaparan ini tak peduli apa yang ada di depannya nanti begitu juga dengan pemangsa yang kelaparan ini akan berusaha sekuat tenaga untuk mengejar si rusa tadi bagaimanapun caranya, Anda tahu akhir dari kejar dan dikejar ini? tentu kita belum bisa memastikan hasil akhir dari ilustrasi tadi namun satu hal yang penting dipetik adalah keduanya sama-sama mempunyai suatu target atau keinginan yaitu si rusa berkeinginan untuk bertahan hidup sedangkan si pemangsa mempunyai target untuk bertahan hidup dari kelaparan.

Ilustrasi di atas hanyalah sebuah contoh bagaimana upaya dalam mengejar sebuah impian, cita-cita, target atau sebuah keinginan.

5. Mengejar impian atau cita-cita dengan cara yang salah

Sudah pasti dalam mengejar impian, cita-cita atau sebuah keinginan kita dituntut untuk menggunakan cara yang baik atau halal. Bagaimanapun caranya kita mengejar impian atau cita-cita tersebut tetaplah harus dalam koridor yang benar baik secara hukum negara maupun hukum agama. Salah satu contohnya adalah pada penerimaan anggota baru di kepolisian atau penerimaan PNS,sudah menjadi rahasia publik untuk membayar sejumlah uang jika kita ingin lolos dan menjadi pegawai di suatu instansi pemerintah.

Diumpamakan si A sedang mengikuti test penerimaan di kepolisian atau PNS lalu hasil test tersebut menyatakan si A tidak lulus namun karena si A dalam mengejar impian atau cita-citanya dengan cara yang salah, lalu si A membayar sejumlah uang untuk dapat “diterima” atau “diluluskan” dalam hasil test tersebut sehingga si A akhirnya berhasil dalam mengejar impian atau cita-citanya tentu ini adalah cara yang melanggar hukum negara maupun hukum agama. Cara atau jalan yang salah, tentulah hasilnya nanti tidak baik

6. Selalu menunda-nunda dan bersantai-santai

Ada semboyan “Waktu adalah uang”, tentu ini adalah isyarat untuk tidak membuang-buang waktu. Janganlah menunda-nunda suatu pekerjaan atau suatu kegiatan dengan bersantai-santai. Tanamkan pada diri untuk mengerjakan suatu pekerjaan atau kegiatan pada waktu yang telah ditentukan atau bahkan jika diperlukan gunakanlah waktu senggang untuk mengerjakan pekerjaan tersebut sebelum waktu yang telah ditentukan.

7. Menyepelekan hal-hal yang kecil

Sesuatu hal yang kecil bisa menjadi masalah besar jika kita mengabaikannya. Berusahalah peduli pada hal-hal yang sekecil apapun. Menyepelekan hal-hal kecil adalah suatu penyakit mental manusia yang dapat mengganggu proses kehidupan.

Contoh seorang pemburu yang ingin mendapatkan hewan buruan yang besar, namun disaat pemburu sedang menunggu hewan yang besar, lewatlah seekor kelinci yang sangat mudah didapatkan, namun karena pemburu ingin mendapatkan yang hewan yang besar, dibiarkanlan si kelinci itu pergi begitu juga dengan hewan kecil lainnya yang lewat di depan pemburu. Karena kelamaan menunggu akhirnya si pemburu tertidur disaat yang sama beberapa ekor rusa yang besar melintas di hadapan pemburu, begitu si pemburu terbangun, kagetlah si rusa tadi lalu berlari tunggang-lenggang. Akhirnya si pemburu tidak mendapat hasil apapun pada hari itu.

8. Dibayangi masa lalu

Banyak orang yang dibayangi oleh masa lalu sehingga menghambat untuk kesuksesan masa depannya. Kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Orang yang sukses tidak dibayangi dengan masa lalu namun mereka belajar dari masa lalu. Waktu terus berjalan ke depan dan tidak akan pernah berjalan ke belakang. Jadi intinya majulah terus meski jatuh berkali-kali, jangan mudah menyerah dan putus asa.

9. Sindrom kesuksesan yang semu

Pseudo Success Syndrome atau sindrom kesuksesan yang semu. Seolah-olah kita telah sukses besar dengan berhasilnya sukses yang kecil. Kenapa demikian? karena kita hanya berhenti pada sukses yang kecil dan tidak beranjak untuk sukses yang besar atau sudah merasa puas dengan sukses yang kecil. Biasanya orang akan sombong dengan diraihnya “sukses” yang kecil sehingga mereka larut dan melupakan sukses yang besar. Raihlah sukses yang paling besar dalam hidup kita

Mental Manusia

Mental Manusia

 

Demikianlah 9 dari beberapa penyakit mental manusia yang mengganggu atau menghambat kehidupan di masa depan. Penulis berharap dengan artikel ini dapat membantu untuk terus berkarya dan berjaya di masa yang akan datang. Hari esok harus lebih baik dari hari ini

TERORISME DAN BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN TERORISME

KARYA ILMIAH
 
BNPT

BNPT

TERORISME DAN BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN TERORISME (BNPT)

Terorisme berasal dari bahasa latin “Terrere” yang berarti gemetaran dan “Deterrere” yang berarti takut dalam arti sempit dan memang belum ada arti yang sesungguhnya. Menurut Walter Reich (dalam Hendropriyono, 2009:26) menyatakan : Terrorism is a strategy of violence designed to promote desired outcomes by instilling fear in the public at large (suatu strategi yang dirancang untuk meningkatkan hasil-hasil yang diinginkan, dengan cara menanamkan ketakutan di kalangan masyarakat umum)
Tetapi penulis mencoba mendefinisikan arti dari terorisme adalah suatu kegiatan, pekerjaan, aliran keyakinan, pola berfikir, atau usaha untuk membuat rasa gentar, takut, was-was,  baik yang dilakukan secara individu (perorangan) maupun kelompok (organisasi) untuk mencapai tujuannya karena tujuan politik, disebabkan tidak puas dengan sistem pemerintahan.
            Kemudian untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat dengan melibatkan berbagai pihak, Pemerintah juga merumuskan peran TNI, Polri, Badan Intelegen Negara, instansi terkait di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden RI Nomor 46 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (Perpres BNPT)  tanggal 16 Juli 2010 dengan tiga pertimbangan, yaitu pertama, merupakan penegasan bahwa Indonesia menempatkan terorisme sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, bukan tindakan kriminal biasa. Kedua, terorisme sebagai organisasi yang mempunyai jaringan luas dan bersifat lintas Negara. Ketiga, pertimbangan bahwa terorisme merupakan ancaman nyata dan serius dan setiap saat dapat membahayakan keamanan bangsa dan Negara (Marthen Luther Djari, 2013: 9)
Kenyataannya kegiatan terorisme satu langkah lebih maju dikarenakan Badan Nasional Penanggulangan Teroris baru bisa bergerak setelah ada peristiwa bom terjadi. “Kalau sekarang cuma reaktif. Kalau ada bom baru bertindak, cuma nunggu-nunggu bom baru kami tangkap,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris Ansyaad Mbai di gedung DPR, Jakarta, Selasa 9 Oktober 2012. Tetapi tetap kemampuan BNPT, TNI dan POLRI beberapa tingkat lebih tinggi dikatakan demikian karena merupakan prajurit yang latihannya terprogram.
Menurut Loudewijk F. Paulus (dalam Wahid, 2004: 33) karakteristik terorisme dapat ditinjau dari empat macam pengelompokan sebagai berikut : pertama, karakteristik organisasi, rekrutmen, pendanaan, dan hubungan internasional. kedua, karakteristik operasi, meliputi perencanaan, waktu, taktik dan kolusi. ketiga, karakteristik perilaku yang meliputi motivasi, dedikasi, disiplin, keinginan untuk membunuh dan keinginan untuk menyerah hidup-hidup, dan keempat, karakteristik sumber daya yang meliputi latihan/ kemampuan, pengalaman, persenjataan, perlengkapan dan transportasi.
 
 
Sementara menurut penjelasan Pettiford dan Harding (dalam Hendropriyono, 2009: 41) terorisme membutuhkan suatu perencanaan yang matang dan terinci. Kebiasaan-kebiasaan dan gerakan-gerakan sasaran (obyek) harus diamati dengan cermat. Teknik operasional persenjataan atau bom harus dikuasai penuh oleh pelaku. Transportasi harus siap dan rumah yang aman (safe house) harus disediakan. Dari karakteristik tersebut, bahwa aksi terorisme selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi, informasi, dan sumber daya manusia yang semakin professional.
 
Menurut Nasir Abas, (2007: 24-25) menjelaskan terdapat beberapa Firman Tuhan yang sering digunakan untuk melegitimasi tindakan kekerasan dan digunakan sebagai doktrin kelompok radikal, yaitu :
1.         Bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai ( at Taubah: 5)
2.         Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu (at Taubah: 14)
3.         Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian (at Taubah: 29)
4.         Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa (at Taubah: 36)
5.         Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah (al Anfal: 39)
6.         Dan bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka (al Baqarah: 191)
            Potongan ayat Al Quran ini dipakai untuk memberikan pengertian kepada anggota kelompok radikal bahwa seolah-olah Islam memang memerintahkan untuk membunuh orang-orang kafir dimana saja mereka berada dan siapapu mereka, tidak terbatas jenis kelamin dan umur. Padahal penafsiran ayat tidak boleh lepas konteks yang tepat ketika ayat tersebut dijalankan. (Nasir Abas, 2007: 25).
 
            Seorang profesor berkebangsaan Amerika Serikat, Samuel Huntington, telah mengatakan dalam tulisannya yang berjudul Clash of Civilazation bahwa konflik dunia tidak lagi berkutat dengan masalah ekonomi atau politik belaka, melainkan benturan antar peradaban. Lebih spesifik lagi, benturan yang dimaksud adalah konflik antara peradaban barat dan Islam. Perbedaan budaya dan keyakinan yang mendasar menghasilkan sebuah fault line yang menjadi sumber konflik. Dua atau lebih peradaban yang saling bergesekan dan menimbulkan goncangan dahsyat. Seperti fenomena yang terjadi di Sulawesi Tengah antara agama Islam dan Kristen. Dengan demikian jangan sampai terjadi antara kekuatan besar di negara ini dari TNI dan POLRI karena keduanya bersumber dari kekuatan yang terbesar yaitu masyarakat indonesia yang memilih profesinya dan terpilih tanggungjawabnya.
Sehingga menurut pemikiran penulis sangat perlu kewenangan BNPT ditambah agar lebih effektif Menurut Richard M. Steers (1985: 8 ) melalui 1. Organisasi 2. Lingkungan 3. Pekerja 4. Kebijakan dan Praktek Manajemen dalam penanggulangan terorisme dengan membentuk corp dintelijen untuk mencegah dan mendeteksi Terorisme dan dibentuk pula satgas kontra inteligen untuk mencegah masuknya Terorisme asing dan menanggulangi terorisme yang ada di Indonesia.

BAHAN PELEDAK DAN TERORISME

KARYA ILMIAH

BAHAN PELEDAK DAN TERORISME

Menjadi Anggota TNI dan seorang mahasiswa disuatu perguruan tinggi negeri di Jawa Barat merupakan suatu karunia, berkah, rahmat dan sekaligus perenungan, sebab perpaduan seragam warna loreng dan seragam bebas rapi sangat menarik dibanding warna lainnya. Dalam menjalankan peran kodrat lebih variasi terlebih apabila didalam suatu lembaga pendidikan. Konsekuensi didalam suatu lembaga pendidikan adalah berhasil atau gagal, menang atau menjadi yang pertama, juara (best of the best) atau lulusan terbaik bukanlah apa-apa tetapi gagal juga bukanlah segalanya. Bagaimanapun hitam putih kehidupan dunia tidak terlepas dari peran lingkungannya, seperti Bahan Peledak dan Terorisme, orang tidak akan tahu sebelum ia mengubah disekitarnya menjadi puing-puing.
1.         Bahan Peledak.         Bahan peledak merupakan bahan kimia baik berbentuk unsur seperti gas Hidrogen (H), Oksigen(O) dan Nitrogen (N) maupun berbentuk senyawa seperti Potasium/ Kalium Nitrat (KNO3), Kalium Klorat (KClO3) dan Kalium Perklrorat (KCLO4)  maupun Ammonium Nitrat (NH4NO3) yang bersifat labil (masih dapat berubah) apabila mendapat umpan yang tepat baik berupa pukulan, gesekan, tusukan, percikan bunga api dan tetesan air asam sulfat (H2SO4)p akan berubah menjadi lebih stabil menghasilkan tekanan, gas dan panas.
            Yang berbahaya dari Bahan Peledak (Handak) adalah energi yang dihasilkan berupa tekanan, gas dan panas tergantung jenis golongannya yaitu Handak Rendah atau Handak Tinggi. Energi inilah yang digunakan untuk merusak, membunuh, mendorong, melontarkan gotri/ pecahan, menghambat baik personel maupun materil tergantung dari tujuan penggunaannya.
            Bahan peledak tidak mengenal kawan dan lawan, yang ada lawan dan calon lawan siapapun yang menemukannya dapat menggunakannya, maka didalam suatu analisa, pengumpulan data, mencari keterangan atau informasi tidak pernah bertanya dengan objek karena dari sisa hasil ledakan (intelijen teknik) dapat diketahui jenis Handak yang digunakan Low Explosive (LE) atau Hight Explosive  (HE). Bahan peledak diibaratkan makanan dibuat untuk dibayar dan dimakan, tetapi bahan Peledak (Handak) dibuat untuk meledak atau diledakkan dan apabila dirangkai untuk tidak dapat dijinakkan.
2.         Terorisme.      Terorisme berasal dari bahasa latin “Terrere” yang berarti gemetaran dan “Deterrere” yang berarti takut dalam arti sempit dan memang belum ada arti yang sesungguhnya. Tetapi penulis mencoba mendefinisikan arti dari terorisme adalah suatu kegiatan, pekerjaan, aliran keyakinan, pola berfikir, atau usaha untuk membuat rasa gentar, takut, was-was,  baik yang dilakukan secara individu (perorangan) maupun kelompok (organisasi) untuk mencapai tujuannya.
 
Aksi terror sendiri dilakukan secara berulang baik dapat berupa penculikan, perampokan, pemerkosaan, meracuni, pembunuhan, telp, surat, opini publik berbagai sumber media informasi, geng motor, bahan peledak dan lain-lain.
Mengapa bahan peledak lebih ditonjolkan ?  
Dengan suara yang keras dan akibat ledakannya akan terdengar menakutkan seperti mendengar suara petir pada saat hujan yang terjadinya pada saat hujan membuat hati tergetar, sehingga melalui media suara yang keras dan gumpalan asap tebal bahkan ada juga yang terdapat api yang menyala akan lebih menakutkan dibandingkan dengan cara lainnya. Bukan lagi hanya mengetahui bahan apa yang digunakan, bukan pula bagaimana cara meramu dan merangkainya tapi bagaimana cara meledakkannya yang perlu diperhitungkan seperti Bom bunuh diri (pemutusan jaringan). Kegiatannya bukan untuk dihitung berapa kali jumlah yang dilakukannya  tapi perlu diperhitungkan cara efektif untuk menanggulanginya.
Menurut Prof Dr. H. Rusadi Kantaprawira bahwa untuk memadamkan api yang besar, harus menggunakan ledakan yang lebih besar, karena api yang besar membutuhkan Oksigen yang banyak begitu pula dengan ledakan yang besar akan membutuhkan Oksigen yang lebih besar yang intinya sama-sama mempunyai “kebutuhan yang sama”.